Tuesday, 8 May 2018

MILALA


MALALA TIDAK GENTAR MENYUARAKAN HAK PEREMPUAN
Malala Yousafzai  di usianya yang masih sangat muda, ia berhasil menjadi seorang aktivis yang memperjuangkan hak pendidikan pada perempuan di negaranya. Ini berawal dari saat ia menempuh pendidikan di sekolah ayahnya di Swat. September 2008, waktu itu Taliban menyerang sekolah untuk anak perempuan itu, dimulailah advokasi hak edukasi perempuan oleh Malala.
Sebuah pidato ia lakukan di Peshawar waktu itu dengan judul “Bagaimana tega Taliban merenggut hak dasar saya untuk edukasi”. Semenjak Malala menyuarakan pidatonya, ia berlanjut memperjuangkan hak edukasi untuk anak perempuan dengan cara blogging. Sejak awal 2009, dengan memakai alias Gul Makai, ia menceritakan keresahannya hidup dalam ancaman Taliban untuk memupuskan pendidikannya. Meski memakai alias, identitasnya terbongkar pada Desember 2009. Memang, terbongkarnya alias yang ia gunakan sempat dinilai membahayakan. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, Malala semakin dikenal luas di dunia. Ia kemudian melanjutkan untuk menyuarakan haknya, hak agar semua perempuan memperoleh pendidikan. Alhasil, nominasi International Children’s Peace Prize 2011 didapatkan Malala.
Pada tahun yang sama, anugrah Pakistan’s National Youth Peace Prize menjadi miliknya. Tekanan dari Taliban semakin membahaykan nyawa Milala, bahkan ancaman pembunuhan dilontarkan terhadapnya. Peristiwa tersebutlah yang membawa Milala semakin terkenal. Anak sulung keluarga Yousafzai itu, justru semakin mendapatkan perhatian dan dukungan penduduk dunia atas usaha dan keberaniannya menyuarakan pendidikan untuk perempuan. Hingga akhirnya ia dapat berpidato di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada hari ulang tahunnya ke-16, 12 Juli 2013. Sejak saat itu, diperingatilah 12 Juli sebagai Malala Day setiap tahunnya. 
MOTIVASI MENJADI PEREMPUAN HEBAT
Kemudian Milala juga kerap memberikan kata penyemangat untuk kaum perempuan untuk membangkitkan semangat kaum perempuan terhadap ketertindasan yang dialami perempuan terkhusus dibidang pendiikan. Dia memberikan tips bgaimana kita menjadi perempuan hebat.
1.      Kamu Bisa Jadi Panutan
Menurut Malala, setiap perempuan bisa jadi panutan dengan caranya masing-masing. Ia mengungkapkan kalau jumlah kaum perempuan adalah sebagian dari populasi dunia. Maka dari itu, para perempuan sebaiknya berpikiran maju dengan berbagai kesempatan yang ada. Malala juga sempat bilang kalau kaum perempuan itu bagian dari masyarakat. Jadi sebagai cewek, kamu semestinya bisa memberikan kontribusi yang baik untuk masyarakat.
2.      Pendidikan adalah Hal Paling Penting
Malala merupakan aktivis yang sangat memperjuangkan pendidikan. Tidak heran kalau ia menyatakan pendidikan adalah hal yang paling penting. Menurut Malala, pendidikan bisa menjadi jalan pembuka untuk bisa mendapatkan pekerjaan, meningkatkan perekonomian dan membentuk perdamaian di kehidupan bermasyarakat. Pokoknya, jangan sampai kamu menyia-nyiakan pendidikan, karena edukasi bisa memberikan banyak kelebihan untuk kamu.
3.      Percaya dengan Diri Sendiri
Sejak umur 10 tahun, Malala sudah sering menyatakan ke banyak teman-teman di negaranya kalau pendidikan adalah hal yang sangat berguna. Malala mengaku kalau saat itu, ia sendiri juga tidak tahu apakah pernyataannya itu akan membuat pengaruh atau perubahan. Intinya, Malala hanya percaya dengan keyakinannya, bahkan hal ini yang akhirnya membawa ia pada kesempatan menjalani pendidikan bukan menikah dan punya anak di usia remaja.
4.      Menjadi Agen Perubahan
Malala bilang kalau sekarang ini banyak cara untuk menjadi bagian dari perubahan yang lebih baik. Misalnya, kita bisa ikut kegiatan amal di lingkungan sekitar atau dengan menggunakan sosial media untuk berbagi hal yang positif. Malala sendiri punya organisasi di negara asalnya yang membantu perempuan muda untuk meraih cita-citanya.
5.      Jadilah Sahabat Bagi Dirimu Sendiri
Malala juga sama seperti anak muda lainnya yang pernah merasa sendirian dan susah untuk mendapat dukungan. Tapi, ada satu saran yang sangat bagus dari Malala kalau kamu sebaiknya selalu menjadi sahabat bagi diri kamu sendiri. Kamu tidak perlu terlalu tergantung pada orang lain. Intinya, kamu yang memiliki hidup kamu sendiri jadi harus menjalani sebaik mungkin.

MALALA YOUSAFZAI BERKUNJUNG KE TANAH AIR
Malala Yousafzai, pemenang Nobel Perdamaian dari Pakistan, mengunjungi kampung halamannya, Mingora. Jalanan diblokir ketika helikopter yang membawanya mendarat di sebuah rumah milik pemerintah, sekitar satu kilometer dari rumah yang dulu dihuninya. Malala juga didampingi saudara laki-lakinya Atal Yousafzai, dan kepala sekolah khusus bagi anak laki-laki Swat Cadet College, Guli Bagh.
Seorang pamannya mengatakan, Malala juga berencana untuk bertemu dengan teman-teman dan sanak keluarganya, sebelum kembali ke Inggris Senin lusa.

Kini Malala menjadi mahasiswa di Universitas Oxford mengambil jurusan Filasafat, Ekonomi dan Politik. Dalam wawancara dengan TV Pakistan Geo TV Jumat lalu ia mengatakan, situasi sudah membaik dan ia berencana untuk mencalonkan diri menjadi perdana menteri setelah menyelesaikan pendidikan.
"Ini negara saya, dan saya punya hak-hak sama seperti warga Pakistan lainnya," demikian kata Malala.
Lalu, saat menyampaikan pidato, ia menangis ketika mengatakan, adalah "impiannya" untuk kembali ke negara asalnya, setelah bekerja bertahun-tahun. Malala pernah mengatakan bahwa mendapatkan penghargaan itu sebuah kesempatan terbesar, tapi untuk mendapatkan pendidikan bagi semua anak laki-laki dan perempuan adalah hal utama dari tujuannya. Ibarat  sebuah sepeda tidak bisa berjalan hanya dengan satu roda: masyarakat itu seperti sepeda, dengan pendidikan laki-laki sebagai roda depan dan pendidikan perempuan sebagai roda kedua.

Tujuh Quote Malala Yousafzai Membangkitkan Semangat Pendidikan

“Ambillah buku dan pena kita. Dua hal tersebut adalah senjata yang paling kuat. Seorang anak, seorang guru, sebuah buku, dan sebuah pena mampu mengubah dunia.”

“Kelompok Taliban bisa mengambil pena dan buku kami, tapi mereka tidak akan bisa menghentikan kami dari terus berpikir dan berkembang.”
“Di beberapa bagian di dunia, para siswa berangkat sekolah setiap paginya. Sekolah adalah bagian yang wajar dalam hidup mereka. Tapi di belahan bumi yang lain, kami haus akan pendidikan. Pendidikan merupakan hadiah yang begitu berharga bagi kami, seperti halnya berlian.”
“Banyak yang berpikir bahwa aku telah memenangkan nobel perdamaian, menerbitkan buku, dan merilis filim jadi aku sudah mendapatkan semua yang aku butuhkan. Tapi mereka tak memahami bahwa tujuanku, yaitu menjamin setiap anak bisa bersekolah, sama sekali belum tercapai. Padahal itulah yang paling terpenting bagiku.”
“Jangan pernah berpikir bahwa hanya karena kamu masih muda, kamu tidak bisa melakukan sesuatu. Waktu itu usiaku 11 tahun saat aku mulai menulis untuk BBC dan berbicara di hadapan masyarakat dunia. Jadi jangan berpikiran bahwa usiamu sekarang akan menghentikan langkahmu ke depan.”
“Penting sekali untuk mengenali dirimu sendiri, mengambil keputusanmu sendiri, dan menunjukkan dirimu yang sesungguhnya.”
“Aku tak keberatan kalau harus duduk di lantai sekolah. Yang aku inginkan hanyalah pendidikan, dan aku tak takut pada siapa pun.”

                                                                                    (dari berbagai sumber/ Arni Girsang )